Prof. Aulia Iskandarsyah: Model Bio-Psiko-Sosial Kontekstual untuk Penanganan Kesehatan Mental di Indonesia
Penulis Arif Maulana
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Prof. Aulia Iskandarsyah, M.Psi., M.Sc., PhD., menyampaikan paparan keilmuan berkenaan dengan Pengukuhan Jabatan Guru Besar Unpad yang diselenggarakan di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Selasa (1/7/2025).
Dalam acara pengukuhan tersebut, Prof. Aulia menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Paradigma Bio-Psiko-Sosial untuk Penguatan Kesehatan Mental dan Ketahanan Bangsa Indonesia”. Orasi ilmiah dibacakan berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar dalam bidang Psikologi Klinis di Fapsi Unpad.
Prof. Aulia menyampaikan, dinamika global yang terjadi di dunia berupa fenomena VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, dan Ambiguous) dan krisis multidimensi berdampak langsung terhadap kesehatan mental manusia. Di Indonesia, data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa sekitar 6,1% penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental emosional, seperti depresi dan kecemasan.
Kementerian Kesehatan pada 2019 juga membeberkan data, sekitar 0,18% populasi atau sekitar 400.000 jiwa mengalami gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia. Faktanya, masalah kesehatan mental di Indonesia mencakup kecanduan digital, perundungan, kesepian sosial, hingga krisis identitas. Meski fenomena ini tidak selalu memenuhi kriteria gangguan klinis, telah menggerus kualitas hidup dan kebersamaan sosial.
“Gangguan kesehatan mental bukan hanya masalah individu, melainkan ancaman terhadap produktivitas nasional, stabilitas sosial, dan ketahanan bangsa,” ujarnya.
Upaya peningkatan kesehatan mental di Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada satu pihak semata. Diperlukan pendekatan sistemik dan lintas sektoral. Salah satu kerangka yang relevan adalah bio-psiko-sosial. Pendekatan ini melihat kesehatan mental sebagai hasil dari interaksi antara faktor biologis, psikologis, dan faktor sosial.
“Model ini sangat kontekstual untuk Indonesia yang multikultural dan berbasis komunitas. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan yang serius,” jelas Prof. Aulia.
Prof. Aulia melanjutkan, beberapa tantangan di antaranya rendahnya rasio tenaga profesional bidang kesehatan mental, stigma sosial yang masih menghambat pencarian bantuan profesional, serta integrasi layanan kesehatan mental dalam layanan kesehatan primer yang masih minim.
Guna mengentaskan tantangan tersebut, Prof. Aulia mendorong sejumlah strategi utama yang bisa diterapkan di Indonesia untuk memperkuat model bio-psiko-sosial. Strategi tersebut meliputi pendidikan dan psikoedukasi kesehatan mental sejak dini, integrasi layanan kesehatan jiwa ke dalam layanan kesehatan dasar, intervensi berbasis budaya lokal, serta kebijakan lintas kementerian yang menyatukan aspek pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan pertahanan.*
Universitas Padjadjaran