Menemukan Makna Bermain dalam Warisan Budaya, Psychology Summer Course 2026 Eksplorasi Permainan Tradisional

Memasuki hari keempat, Psychology Summer Course 2026: PLAY-OLOGY – Unlocking the Power of Play mengajak peserta kembali mengenal kekayaan permainan tradisional sebagai bagian dari pengalaman bermain yang sarat dengan nilai psikologis dan budaya. Bertempat di Komunitas Hong dan kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi peserta dari berbagai institusi dan negara untuk belajar melalui pengalaman bermain sekaligus mengenal sejarah dan budaya yang melekat pada permainan tradisional.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan dari Komunitas Hong yang dilanjutkan dengan berbagai permainan tradisional. Peserta diperkenalkan pada permainan Salam Sabrang yang melatih empati, koordinasi, kepatuhan terhadap aturan, serta kemampuan menyelaraskan kerja otak kiri dan kanan. Peserta juga mencoba Tete Mute, sebuah permainan menebak keberadaan batu di tangan pemain yang mendorong penggunaan intuisi, serta Perepet Jengkol yang melatih keseimbangan.

Tidak berhenti pada permainan yang sudah dikenal, peserta juga diajak berkreasi menggunakan benda-benda sederhana dari lingkungan sekitar. Dengan menggunakan sarung dan pelepah kelapa, peserta membuat berbagai bentuk seperti perahu, kura-kura, boneka, hingga ekor monyet dan burung. Aktivitas tersebut memperlihatkan bagaimana permainan tradisional dapat mendorong kreativitas sekaligus mengajarkan bahwa bermain tidak selalu membutuhkan perangkat atau fasilitas yang kompleks.

Keseruan berlanjut ketika peserta dibagi ke dalam kelompok dan diberikan kesempatan mencoba berbagai permainan tradisional secara paralel, seperti Babalonan, Rorodaan, Banbanan, Papancakan, Bedil Karet, Bedil Jepret, Voli Sarung, Balak Jajar, dan Gasing. Melalui aktivitas tersebut, peserta tidak hanya bermain, tetapi juga berinteraksi, berkolaborasi, dan mengalami secara langsung berbagai bentuk permainan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Setelah rangkaian permainan, peserta melakukan mobilisasi menuju Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Kegiatan dilanjutkan dengan istirahat sekaligus debrief mengenai permainan tradisional yang telah dimainkan, khususnya terkait dengan latar belakang budaya dan sejarah di balik setiap permainan. Sesi ini menjadi ruang bagi peserta untuk merefleksikan pengalaman bermain sekaligus memahami bahwa permainan tradisional tidak hanya merupakan bentuk hiburan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang membawa nilai-nilai sosial dan historis.

Melalui rangkaian kegiatan pada hari keempat, Psychology Summer Course 2026 menunjukkan bahwa pengalaman bermain dapat menjadi pintu masuk untuk memahami perkembangan individu sekaligus keberagaman budaya. Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Quality Education melalui pembelajaran berbasis pengalaman yang menggabungkan aspek psikologi, budaya, dan interaksi sosial. Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan SDGs 11: Sustainable Cities and Communities, khususnya melalui upaya mengenalkan dan mengapresiasi warisan budaya lokal serta permainan tradisional sebagai bagian dari identitas dan keberlanjutan budaya masyarakat.