Dyslexia Support for All: Strategies for Building an Inclusive Environment

Sumedang, 5–6 Agustus 2025 – Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran sukses menyelenggarakan Summer Program 2025 dengan tema “Dyslexia Support for All: Strategies for Building an Inclusive Environment”. Kegiatan ini dihadiri oleh para pendidik, terapis, mahasiswa internasional, mahasiswa psikologi, serta pegiat pendidikan inklusif, dan menghadirkan narasumber dari Indonesia, Polandia, dan Korea Selatan. Pembicara yang turut berkontribusi antara lain Dr. rer. nat. Shally Novita, Dr. Radtke Urszula Sajewicz, Bartosz M. Radtke, PhD, Dr. Yumi Lee, Dr. Fitriani Yustikasari Lubis, M.Psi., Psikolog, dan Fitriany Juhari, M.Psi., Psikolog.

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Gedung 1 Fakultas Psikologi Unpad ini dirancang untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan dalam mendampingi individu dengan disleksia. Melalui kuliah interaktif, acara dikemas melalui kegiatan simulasi kasus, kunjungan lapangan, dan sesi praktik langsung bersama para ahli. Pemaparan oleh narasumber mencakup definisi dan karakteristik disleksia, penyebab, gejala primer dan sekunder, hingga tantangan yang dihadapi individu di berbagai tahapan perkembangan hidup. Peserta juga diperkenalkan pada model multilevel penyebab disleksia yang menyoroti peran faktor neurologis, kognitif, dan lingkungan.

Narasumber memaparkan berbagai strategi modifikasi pembelajaran di kelas, seperti penyesuaian tugas dan materi, penerapan Individualized Education Program (IEP), pembelajaran berbasis kekuatan siswa, dan penggunaan metode berbasis penelitian seperti Fernald/VAKT Method dan Gillingham Method. Pendekatan pembelajaran multisensori juga menjadi fokus, mengingat efektivitasnya dalam memperkuat memori dan pemahaman siswa dengan disleksia.

Perspektif internasional menjadi nilai tambah penting dalam kegiatan ini. Dari Polandia, peserta mendapat wawasan tentang sistem dukungan yang terstruktur, mulai dari proses diagnosis di pusat konseling psikologis-pedagogis, penerbitan Special Needs Statement, hingga penyesuaian ujian nasional seperti Matura dan 8th grade exam. Bentuk dukungan meliputi perpanjangan waktu ujian, penggunaan media pembelajaran khusus, pendampingan guru, hingga pembebasan bahasa asing kedua untuk kasus disleksia berat. Sementara itu, dari Korea Selatan, dibagikan pengalaman strategi pembelajaran dan intervensi: prinsip pengajaran efektif yang eksplisit dan multisensori, pendekatan Multisensory Structured Language yang diadaptasi untuk Hangeul, pembelajaran individual atau kelompok kecil, serta dukungan emosional-motivasi. Juga terdapat strategi yang mencakup pelatihan kesadaran fonologis, color-coding, dan integrasi keterampilan membaca-menulis-berbicara. 

Inovasi teknologi juga menjadi sorotan, salah satunya melalui sesi Virtual Reality DyslexLens yang memungkinkan peserta merasakan langsung tantangan membaca yang dialami individu dengan disleksia. Inovasi VR ini dikembangkan oleh tim peneliti dari Fakultas Psikologi Unpad. Simulasi ini diharapkan dapat menumbuhkan empati, meningkatkan pemahaman, dan membantu guru mengembangkan metode pengajaran yang lebih adaptif.

Selain itu, dibahas pentingnya kolaborasi rumah–sekolah untuk mendukung perkembangan literasi anak. Lingkungan literasi di rumah (home literacy environment) yang kaya, keterlibatan aktif orang tua, dan komunikasi efektif antara guru dan keluarga menjadi faktor kunci keberhasilan intervensi. Teknologi bantu di rumah, seperti aplikasi edukasi digital dan perangkat text-to-speech, juga direkomendasikan untuk membantu proses belajar.

Sepanjang acara, suasana penuh antusiasme terlihat dari diskusi interaktif dan berbagi pengalaman antar peserta lintas negara. Keberagaman perspektif memperkaya pemahaman tentang strategi dukungan disleksia yang efektif dan sesuai konteks budaya. Diselenggarakannya International Summer Program 2025 ini diharapkan dapat menjadi langkah dalam membangun lingkungan yang inklusif, adaptif, dan bebas dari stigma, sekaligus merancang strategi yang inovatif demi masa depan yang lebih baik.