Fakultas Psikologi Unpad Gelar Psychological Preparation for Marriage Modul 3 Sesi 1: Inner Journey towards Marriage Readiness
Penulis Reynaldi Rohana
Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran melalui Unit Usaha Akademik Fakultas Psikologi Unpad, Studio Pembelajaran Psikologi Berkelanjutan, menyelenggarakan kegiatan Psychological Preparation for Marriage Day 1 Modul 3: Inner Journey towards Marriage Readiness pada Sabtu, 6 Juni 2026, pukul 10.00–15.00 di Gedung Serba Guna Rektorat Gedung 2 lantai 4 Universitas Padjadjaran, Dipatiukur, Bandung. Kegiatan ini diikuti oleh 31 peserta dari berbagai usia dan latar belakang, dengan pemateri Dr. Langgersari Elsari Novianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan oleh MC, sambutan dari ketua UUA Fapsi Unpad, serta refleksi mindful breathing yang dipandu oleh mahasiswa magister psikologi. Pada sesi pertama, peserta mengikuti pengisian kuesioner identifikasi persiapan pernikahan, mindful practice, dan diskusi reflektif mengenai makna pernikahan. Dari hasil interaksi peserta, muncul berbagai jawaban menarik, di antaranya bahwa pernikahan dipahami sebagai “komitmen seumur hidup”, sementara tiga hal yang dianggap penting untuk dipersiapkan sebelum menikah adalah fisik, mental, dan finansial.
Dalam pemateriannya, Dr. Langgersari Elsari Novianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog menekankan bahwa pernikahan bukan sekadar prosesi yang berlangsung singkat. Ia menjelaskan bahwa rangkaian akad nikah, pemberkatan, maupun prosesi agama dan negara umumnya hanya berlangsung sekitar 45 hingga 60 menit, sementara resepsi pernikahan bisa berlangsung selama beberapa jam. Namun demikian, menurutnya, makna pernikahan jauh melampaui seluruh rangkaian acara tersebut. “Prosesi akad nikah, pemberkatan, maupun prosesi agama dan negara memang hanya berlangsung singkat, begitu pula resepsi pernikahan. Tetapi menikah adalah komitmen dan karya seumur hidup,” ujar Dr. Langgersari.
Materi yang disampaikan juga membahas berbagai dimensi dalam pernikahan, seperti aspek ekonomi, emosi, batasan relasi, seksualitas, pengasuhan anak, hingga pembagian peran domestik dan waktu luang. Peserta diajak memahami faktor-faktor yang dapat memengaruhi penyesuaian dalam pernikahan, termasuk perbedaan agama, ras, etnis, kelas sosial, latar pendidikan, kedekatan dengan keluarga besar, serta dinamika relasi yang terlalu singkat maupun terlalu panjang.
Pada sesi lanjutan, peserta mengikuti refleksi melalui sticky notes, diskusi mengenai realitas kehidupan pernikahan, serta latihan worksheet seperti Myselfgram dan MySocialWorld untuk mengenali diri sendiri dan jejaring sosial yang berpengaruh dalam kehidupan. Suasana kegiatan tampak antusias dan interaktif, dengan para peserta aktif berbagi pengalaman, pandangan, serta pertanyaan seputar pernikahan dan kesiapan menjalaninya.
Kegiatan ditutup dengan pesan bahwa menikah adalah proses belajar sepanjang hayat. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai kesiapan psikologis dalam membangun pernikahan yang sehat, reflektif, dan bermakna.
Universitas Padjadjaran