dr. Kristiantini Dewi’s Learning Center : Selangkah Lebih Dekat dengan Dyslexia
Penulis Finayatus Sa'adah
Bandung, 8 Agustus 2025 – Dalam rangkaian International Summer Program 2025 Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, melakukan kunjungan ke Klinik dr. Kristiantini Dewi, Sp.A, yang lebih dikenal sebagai Learning Center dr. Tian di Setiabudi, Bandung. Acara ini berlangsung pada Jumat (8/8) dari pukul 09.00 hingga 12.30, dengan dihadiri oleh para partisipan International Summer Program 2025.
Kegiatan ini berfokus pada pembahasan mengenai assesmen dan intervensi anak dengan dyslexia, sekaligus memperkenalkan pendidikan alternatif yang dirancang khusus untuk anak-anak dengan kebutuhan berbeda, seperti dyslexia, ADHD, dan autisme. Pendidikan tersebut dijalankan secara kolaboratif antara dokter, psikolog, terapis, hingga guru.
Kegiatan dimulai dengan pembukaan dan pengantar oleh dr. Tian. Para peserta diajak mengenal ruang belajar dan bermain di learning center, lengkap dengan berbagai alat serta media pembelajaran yang digunakan. Tidak hanya itu, peserta juga berkesempatan mengamati langsung kegiatan anak-anak di kelas, mendengarkan pemaparan mengenai implementasi lembaga pendidikan informal, hingga memahami lebih jauh karakteristik anak dengan dyslexia.
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian adalah paparan tentang kematangan emosi dan perilaku khas anak dengan dyslexia. Peserta juga mendapat wawasan baru tentang fleksibilitas pendidikan alternatif—bagaimana anak usia 2 hingga 11 tahun bisa belajar dan bermain di tempat yang sama, dengan jadwal serta kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.
Suasana selama kegiatan terasa hangat dan penuh antusiasme. Para peserta terlihat aktif bertanya, berdiskusi, hingga menikmati penampilan musik serta karya seni yang dipersembahkan oleh anak-anak di learning center. Di akhir acara, kegiatan ditutup dengan ucapan terima kasih, pemberian cindera mata, serta sesi foto bersama pemateri, tim pengajar, dan mahasiswa.
Kegiatan berjalan lancar dan memberikan banyak insight baru, terutama tentang bagaimana pendidikan alternatif bisa menjadi ruang yang lebih ramah dan inklusif bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Universitas Padjadjaran