Dyslexlens: Melihat Dunia Lewat Mata Disleksia
Penulis Finayatus Sa'adah
Sumedang, 6 Agustus 2025 – Dalam rangkaian International Summer Program 2025, Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran memperkenalkan inovasi teknologi edukasi berbasis Virtual Reality (VR) bernama “DyslexLens”. Teknologi ini dirancang untuk memberikan pengalaman kepada peserta dalam memahami tantangan yang dihadapi individu dengan disleksia, sekaligus menumbuhkan empati dan mendorong strategi pembelajaran yang inklusif.
DyslexLens dikembangkan dengan konsep perspective taking, di mana pengguna virtual reality “dibawa masuk” ke pengalaman visual penyandang disleksia. Saat mengenakan VR, peserta akan melihat teks yang sulit terbaca, huruf yang tertukar posisinya, atau kata yang terus bergerak—fenomena yang sering dialami oleh individu disleksia saat membaca. Melalui pengalaman ini, peserta tidak hanya belajar dari penjelasan teoritis, tetapi juga merasakan sendiri kompleksitas hambatan yang dialami.
Sesi ini dikemas dalam kegiatan Strategies for Inclusivity (VR: DyslexLens) yang berlangsung di VR Room Fakultas Psikologi Unpad. Diawali dengan penjelasan mengenai VR – Peserta mendapatkan pengenalan mengenai prinsip kerja teknologi VR, konsep simulasi, serta bagaimana DyslexLens diadaptasi untuk menggambarkan kondisi disleksia. Selanjutnya, para peserta mencoba menggunakan headset VR dan mengalami simulasi simulasi real di VR Laboratorium. Para peserta juga berkesempatan untuk melihat lebih detail pengaturan perangkat, desain konten, serta proses pengembangan simulasi.
Melalui pengalaman ini, diharapkan peserta—baik pendidik, mahasiswa, terapis, maupun pegiat pendidikan inklusif—dapat memahami bahwa disleksia bukan sekadar “kesulitan membaca”, tetapi sebuah kondisi neurokognitif yang memerlukan dukungan khusus. Dengan pemahaman berbasis pengalaman ini, guru dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih adaptif, orang tua dapat memberikan dukungan emosional yang tepat, dan masyarakat dapat mengurangi stigma terhadap penyandang disleksia.
Inovasi seperti DyslexLens memperlihatkan bagaimana teknologi dapat menjadi jembatan antara pemahaman akademis dan empati manusia, sekaligus membuka peluang penelitian dan pengembangan strategi pendidikan inklusif yang lebih efektif di masa depan.
Universitas Padjadjaran