[psikologi.unpad.ac.id, 19/07/2020] Perkembangan teknologi tidak bisa dipungkiri, perkembangan tersebut juga berpengaruh pada banyak aspek, termasuk dalam bidang psikologi. Ikatan Alumni Fakultas Psikologi (IKAPSI) Universitas Padjadjaran pada hari Minggu (13/7/2020) telah melaksanakan webinar kedua mereka yang bekerja sama dengan PartnerInc. Webinar yang berjudul Webinars Series Alumni Berbagi pada kesempatan kali ini mengambil tema tentang “Using the Old tools with New Methods: Put Artificial Intelligence in Psychological Testing and Assessment” yang membahas bagaimana alat tes psikologi dapat dikombinasikan dengan kecerdasan buatan.

Dalam webinar yang menggunakan Zoom Online Meeting ini, Heru Wiryanto menjelaskan tentang menggunakan psikometri dan mengkombinasikannya dengan kecerdasan buatan. Kepada kurang lebih 140 partisipan, Kang Heru menjelaskan bahwa alat tes yang sudah ada dari zaman dahulu (contoh: Pauli) jika disatukan dengan aplikasi yang ada sekarang (contoh: JASP) bisa menjadi alat yang dapat memprediksi perilaku manusia di kedepannya nanti. Jadi, dengan alat tes yang sudah ada kita bisa mengembangkan sesuatu yang lebih kaya dan akurat.

Selain itu, Kang Heru juga menyampaikan sedikit tentang sejarah kecerdasan buatan ini. Kecerdasan buatan atau yang biasa disebut dengan AI (Artificial Intelligence) sendiri berawal dari tahun 1950-an. Professor Andrew Ng mengatakan, “AI is the new electricity”. Sebagaimana listrik telah mengubah cara dunia bekerja, AI juga akan mengubah dunia. Mulai tahun 1980, muncul disiplin baru dari AI, yaitu Machine Learning, di mana memungkinkan komputer untuk mempelajari data untuk membuat model yang digunakan untuk melakukan prediksi hasil kedepannya. Machine Learning berguna untuk menemukan insight dan pattern dalam data besar yang seringkali dalam pengamatan oleh manusia tidak terlihat.

AI tentunya harus menggunakan komputer untuk membuat algoritma-algoritma agar bisa mengklasifikasi, menganalisis, dan menggambarkan suatu prediksi dari data yang ada. Tidak berhenti sampai di situ, data akan terus menerus disuplai sehingga sistem akan terus belajar dari data untuk memperbaiki akurasinya. Hingga suatu saat, mesin akan lebih pintar dari manusia, seperti yang ditakutkan Elon Musk.

Lalu bagaimana dengan penerapannya? Sekarang, sudah ada Impress.ai yang menggunakan teknologi AI Powered Candidate Screening untuk recruiting dan HR. Ada juga Seedlink untuk mengetahui apakah seseorang bisa cocok dengan orang-orang dan budaya di suatu perusahaan. Bahkan, dengan adanya aplikasi-aplikasi AI ini dapat memungkinkan adanya harapan untuk menyeleksi pejabat publik yang tidak akan melakukan korupsi untuk mengurangi kasus korupsi di Indonesia kedepannya.

Terakhir, ada pesan dari Kang Heru, pendekar yang baik itu tahu bagaimana menggunakan tusuk gigi sekalipun untuk membunuh. Jadi, alat test baru perlu dikembangkan tetapi kita juga bisa memanfaatkan alat lama dengan menggunakan metode baru dengan power accuracy yang dibutuhkan.

Oleh: Alya Susetyo