BPIP Sore Hari – 4 April 2012

[stextbox id=”info” bgcolorto=”ff00ff”]Biro Pelayanan dan Inovasi Psikologi
Fakultas Psikologi
Universitas Padjadjaran
Mempersembahkan BPIP Sore Hari

Introduction to Cognitive Behaviour Therapy: Basic and Applied
Pembicara: Dr. H. Ahmad Gimmy.P, M.Si

Rabu, 4 April 2012
Pukul 15.00
Di Aula BPIP
Jl. Ir. H. Juanda No. 438 B
HTM Rp 15000
Fasilitas Snack + Sertifikat

Contact Person
Tika: 08112292070[/stextbox]

Unpad dan BNI Sepakati Kerja Sama Early Recruitment Program

[stextbox id=”info” bgcolorto=”ff00ff”]

[Unpad.ac.id, 21/03/2012] Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Unpad, dr. Trias Nugrahadi Sp.KN., menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Pimpinan BNI Kantor Wilayah Bandung, Dhias Widhiyati, terkait program Early Recruitment Program (ERP). Penandatanganan PKS ini berlangsung pada Rabu (20/03) bertempat di Kafe Ngopi Doeloe, Jl. Hasanuddin, Bandung.

PR III Unpad, dr. Trias Nugrahadi Sp.KN., dan Pimpinan BNI Kantor Wilayah Bandung, Dhias Widhiyati usai penandatanganan perjanjian kerja sama Early Recruitment Program (Foto: Tedi Yusup)*

Menurut Dhias, program ERP ini bertujuan untuk menjaring mahasiswa Unpad yang berprestasi untuk direkrut sebagai karyawan BNI. Mekanismenya adalah, Unpad merekomendasikan mahasiswa terbaik yang sudah menempuh enam semester. Selanjutnya, setelah melalui seleksi, mereka akan mendapat beasiswa pendidikan hingga lulus berikut uang saku dan bantuan penyelesaian skripsi. Setelah lulus dari Unpad, mereka akan diikut sertakan dalam Officer Development Program dan akan diberi kesempatan berkarir di BNI.

“Bagi mahasiswa semester 7 yang berminat masuk perbankan, khususnya BNI, kami membuka program ERP ini untuk menyaring bibit unggul sejak awal sebagai bentuk regenerasi pimpinan BNI di masa depan,” jelas Dhias.

Menanggapi hal tersebut, dr. Trias mengatakan bahwa program kerja sama semacam ini akan lebih banyak dikembangkan di Unpad, khususnya untuk menyalurkan mahasiswa dan alumni Unpad yang potensial di bidangnya. “Kerja sama ini menjadi lebih bermanfaat khususnya bagi lulusan Unpad. Jadi mereka tidak hanya mendapat manfaat saat menjadi mahasiswa saja, tapi juga ada tindak lanjut setelah mereka lulus,” ujar dr. Trias.

Ia juga berharap akan lebih banyak perusahaan yang tertarik melakukan program semacam ini. Dengan kerja sama tersebut, dr. Trias menjelaskan bahwa perusahaan tidak hanya bisa melaksanakan fungsi Corporate Social Responsibility (CSR) seperti penyaluran beasiswa, tapi mereka juga beruntung mendapat calon-calon karyawan yang potensial sejak awal. “Semoga semakin banyak perusahaan yang berlomba-lomba menjaring bibit potensial di Unpad semacam ini,” tuturnya.

Program ERP ini tercatat telah bergulir sejak tahun 2007 dan ditujukan bagi mahasiswa semester 7  yang pada Semester 6 memiliki minimal IPK 3,00 dan berusia 22 tahun. Mahasiswa yang bisa mengikuti program tersebut adalah mahasiswa yang berasal dari beberapa program studi di lingkungan Unpad, antara lain Ilmu Hukum, Akuntansi, Sosial Ekonomi (Pertanian), Sosial Ekonomi Peternakan dan Perikanan, dan sebaginya. Informasi selengkapnya akan diumumkan melalui Bagian Kemahasiswaan Unpad ke tingkat fakultas.

Bagi mahasiswa yang lolos seleksi administrasi, mereka akan mengikuti seleksi tertulis seperti tes TOEFL dan psikotes serta wawancara dengan pihak BNI dan tes kesehatan. Bila berhasil lolos dari serangkaian tes tersebut, mereka akan mengikuti pelatihan internal dan magang di kantor BNI. Hal ini menjadi keunggulan dan manfaat lebih bagi mahasiswa Unpad yang mengikut program ini. Selain mereka mendapat beasiswa, mereka juga mendapat kesempatan berkarir dan magang di BNI. *

Laporan oleh: Marlia

[/stextbox]

Lowongan Eiger

[stextbox id=”info” bgcolorto=”ff00ff”]

Kami salah satu perusahaan manufaktur & retail di bidang peralatan adventure dan lifestyle, membutuhkan tenaga profesional untuk menempati posisi sebagai:

 Info selengkapnya klik disini

Maksimum pendafataran tanggal 4 April 2012

[/stextbox]

Hikmah Tentang Pemberian Nilai

[stextbox id=”info” bgcolorto=”ff00ff”]Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Mari kita instropeksi diri. Kalau di Dunia luar sana ( dunia nyata ) sudah begitu banyak tekanan yang bisa menghambat laju perkembangan otak kita, janganlah menambah tekanan itu di Dunia Elv-Army ini. Semoga semua yang memposting dan yang berkomentar punya visi dan semangat membangun, bukan saling menjatuhkan dan merasa benar sendiri, sehingga grup ini bisa menjadi wadah bagi pengungkapan pikiran yang belum tersampaikan di dunia luar sehingga ilmu – ilmu yang kita dapatkankan di Univ bisa lebih membumi karena adanya komunikasi yang baik. Walaupun tidak benar2 memproduksi ilmu yang baru seenggaknya kita tidak benar2 menjadi konsumen mutlak dari ilmu pengetahuan…

[/stextbox]